07
Jul-2019

Belajar Sejarah TNI

Koleksi yang ada di Museum Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) Dharma Wiratama merupakan benda bersejarah yang dipergunakan para pejuang dan laskar rakyat saat merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan RI. Total jenderal mencapai 4.289 buah.

Awalnya, gedung yang sekarang menjadi museum itu dibangun pemerintahan kolonial Belanda tahun 1904. Luas sekitar 1.564 meter persegi (m²). Sebelumnya, digunakan sebagai rumah dinas pejabat administrasi perkebunan Belanda di Jawa Tengah dan DIY.

Museum Darma WiratamaPada zaman Jepang tahun 1942, gedung ini disita dan dipergunakan sebagai Markas Tentara Jepang di Yogyakarta (Syudokan). Setelah Indonesia Merdeka, gedung ini digunakan sebagai Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Di markas ini diselenggarakan Konferensi TKR pada 12 November 1945, yang berhasil memilih Pimpinan Tertinggi Angkatan Perang. Yaitu, Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Di markas ini, Panglima TKR mengendalikan komando ke seluruh wilayah tanah air Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan RI dan sebagai tempat Kepala Staf Letjen Urip Sumoharjo menyusun organisasi TKR. Selanjutnya, berkembang menjadi TNI.

Museum Darma WiratamaGedung ini pernah digunakan sebagai Markas Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro dan saksi sejarah kebiadaban G 30 S/PKI pada tahun 1965. Waktu itu, G 30 S/PKI melakukan penculikan terhadap Kepala Staf Korem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro Letkol Sugiyono dan akhirnya dibunuh secara kejam bersama dengan Danrem 072/Pamungkas Kodam VII Diponegoro, Kolonel Inf. Katamso Dharmokusumo, yang diculik dari rumah dinas oleh oknum Yon L Kentungan Yogyakarta.

Museum ini diakui setelah melalui validasi Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat pada 5 Nopember 2008. Perintisan ini dimulai sejak 1956 oleh Disjarahad, yang dulunya bernama SMAD (Sejarah Militer Angkatan Darat). Museum ini dihadirkan agar bisa memberikan gambaran pada generasi penerus tentang sejarah TNI AD dan mewariskan nilai nilai perjuangan para pahlawan bangsa.

Museum Darma WiratamaSejarah berdirinya museum ini merupakan rangkaian dari kerja dari biro museum yang dibentuk dalam lingkungan SMAD. Sebelumnya, museum tersebut direncanakan dibangun di Kompleks Brontokusuman (digunakan sebagai Museum Perjuangan) atas kerja sama dengan perintis monumen setengah abad kebangkitan yang diketuai Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pada tanggal 17 Juni 1968, Museum TNI AD dipindahkan dari Kompleks Brontokusuman ke kediaman resmi Jenderal Sudirman di Jalan Bintaran Wetan Nomor 3 Kota Yogyakarta. Seiring perkembangan gedung tersebut dianggap tidak memadai lagi. Lebih tepat lagi digunakan sebagai Museum sasmitaloka Jenderal Sudirman.

Museum Darma WiratamaSelanjutnya Benteng Vedeburg yang akan digunakan sebagai gedung baru museum TNI AD. Waktu itu, pemerintahan Presiden Suharto menganggap Benteng Vredeburg lebih tepat digunakan sebagai taman budaya. Akhirnya, SMAD mengajukan satu lokasi kepada KSAD. Yakni, Gedung Markas Korem 072/Pamungkas yang terletak di Jalan Jendral Sudirman Nomor 47 (saat ini bernomor 75).

Selanjutnya, atas koordinasi Kodam IV Diponegoro (dulu kodam VII/Diponegoro) selaku instansi yang membawahi Korem 072/Pamungkas. Mengacu surat Kasad, Museum TNI AD selanjutnya menempati area tersebut dan tanggal 30 Agustus 1982 diresmikan oleh Kasad Jenderal TNI Poniman.

Tata Ruang dan Koleksi Museum

Begitu masuk, ada 20 ruang yang dibuat. Semuanya menggambarkan bagian-bagian sejarah perjuangan tentara saat melawan penjajah Belanda.

Berikut ini pembagiannya:
Ruang 1: Ruang Pengantar
Terletak di bagian tengah depan gedung utama sebagai ruang pengantar bagi pengunjung untuk memahami nilai dan arti perjuangan. Serta pengabdian pahlawan dan pejuang saat merebut, mengisi, dan mempertahankan kemerdekaan RI melalui aspek kesejarahan koleksi Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama.
Koleksi yang dipamerkan sebagai bukti sejarah perjuangan sesuai tema kronologis historis perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah. Juga ada prasasti peresmian Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama dan foto para mantan Kasad.

Ruang 2: Ruang Jenderal Sudirman
Sebagai ruang kerja Jenderal Sudirman sewaktu menjabat Panglima Besar, yang terpilih dari hasil Konferensi TKR 12 November 1945 dan dilantik sebagai Panglima Besar 18 Desember 1945. Di ruangan ini, Jenderal Sudirman memimpin, memberikan komando, dan membina TNI.

Ruang 3: Ruang Letjen Urip Sumoharjo
Sebagai ruang kerja Letjen Urip Sumohardjo yang menjabat sebagai Kepala Staf. Di ruangan ini, Letjen Urip Sumohardjo merumuskan organisasi tentara yang memiliki jati diri sebagai tentara rakyat, tentara perjuangan, dan tentara nasional.
Koleksi yang dipamerkan, mulai meja kerja, telepon, kursi tamu rotan, foto setengah badan. Suatu keteladanan pejuang sejati, yang menjabat Kepala Staf, ahli organisasi tentara yang berjuang tanpa pamrih dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.

Ruang 4: Ruang Palagan
Di ruang ini dipamerkan koleksi senjata, alat perlengkapan, pakaian pejuang, seragam tentara PETA dan TKR serta lukisan 8 palagan besar yang menentukan dalam merebut, mengisi, dan mempertahankan Kemerdekaan RI dari tentara Belanda, Sekutu dan Jepang. Delapan palagan tersebut, yaitu Palagan Medan (Perjuangan Medan Area), Palagan Palembang (Pertempuran 5 hari 5 malam), Palagan Bandung (Bandung Lautan Api), Palagan Semarang (Pertempuran 5 hari), Palagan Ambarawa, Palagan Surabaya, Palagan Bali (Puputan Margarana), dan Palagan Makassar.

Ruang 5: Senjata Modal Perjuangan
Koleksi berupa senjata tradisional (keris, trisula, tombak, klewang, panah, bambu runcing, meriam kecepek), senapan dan pistol yang dirampas dari tentara Jepang dan Belanda serta granat gombyok yang digunakan para pejuang untuk merebut, mengisi, dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari penjajah.

Ruang 6: Ruang Dapur Umum
Menggambarkan dapur tradisional rumah rakyat yang terbuat dari bambu dan atap rumbia, yang berperan dalam perjuangan dengan mendukung keperluan logistik dapur umum di setiap sektor pertempuran. Koleksi: kukusan, dandang, kekep, bakul, tenggok, tungku api, kayu bakar dan kendil air.
Museum Darma Wiratama

Ruang 7: Ruang Alhub dan Alkes
Koleksi yang digelar berupa alhub (telepon Belanda, baterai radio, radio pemancar TRT, pesawat induk TRT, pesawat penerima R. 107, pemancar BC-191-N, pesawat SCR 284/BC 694, pemancar dan penerima HF 156, pemancar dan penerima WS-19) dan Alkes berupa alat operasi yang digunakan untuk merawat prajurit yang sakit dan tertembak saat terjadi pertempuran.

Ruang 8,9,10: Ruang Perang Kemerdekaan
Di ruangan ini digambarkan dharma bakti Angkatan Darat dalam mempertahankan kemerdekaan RI dari Agresi Militer Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947 dan Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948.

Ruang 11: Ruang Panji-Panji
Ruang Panji-panji memiliki koleksi. Seperti Panji-panji Kesatuan TNI AD, Pataka Kotama/Balakpus, Dhuaja Resimen, Brig, Korem, Grup, Sempana Kodiklatad dan Rindam, Tunggul Batalyon, serta Pathola Depo Pendidikan.

Ruang 12: Ruang GAMAD
Di ruang ini dipamerkan berbagai bentuk dan tipe seragam Angkatan Darat meliputi PDH, PDU, dan PDL beserta atributnya sejak tahun 1950 sampai dengan 1980.

Ruang 13: Ruang Tanda Jasa
Di ruang ini dipamerkan Tanda Jasa /Penghargaan berupa Bintang Jasa dan Satya Lencana sebagai pengakuan dan penghargaan atas jasa para prajurit yang telah berjuang, mengabdi kepada bangsa dan Negara. Sehingga bisa memberikan dukungan moril dan kebanggaan kepada yang bersangkutan, keluarga, dan generasi penerus.

Ruang 14,15,16: Ruang Peristiwa
Di ruang ini digambarkan peristiwa pemberontakan PKI, DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, DI/TII Sulawesi Selatan, kebiadaban gerakan separatis dan Operasi Militer yang digelar TNI dalam rangka memulihkan keamanan, mempertahankan keutuhan wilayah dan menjaga kedaulatan NKRI.

Ruang 17 : Ruang Alat Peralatan
Di ruang ini dipamerkan benda-benda bersejarah yang dipergunakan pada gelar operasi satuan Angkatan Darat dalam menanggulangi gangguan keamanan dari pihak-pihak yang merongrong NKRI sejak tahun 1950 hingga sekarang. Mulai dari senjata, alat optik, alat perhubungan, dan mesin elektronik.

Ruang 18: Ruang Piagam Keutuhan AD dan Kontingen Garuda
Di ruang ini digambarkan situasi tahun 1950-an. Peristiwa rakyat demonstrasi sebagai usaha menyatukan konflik internal Angkatan Darat yang dirintis Kolonel Bambang Sugeng dan berhasil dilaksanakan upacara di Istana Yogyakarta yang dipimpin Presiden Soekarno dengan ditandatanganinya Piagam Keutuhan. Koleksi yang dipamerkan: Piagam Keutuhan, penyangga pbor penerangan pada peristiwa penandatanganan Piagam Keutuhan TNI AD, benda-benda koleksi dan foto Kontingen Garuda di Kongo, Afrika, dan Kamboja.

Ruang 19: Ruang Pahlawan Revolusi
Di ruang ini digambarkan kebiadaban peristiwa pemberontakan G 30 S/PKI yang menculik dan menyiksa para pimpinan Angkatan Darat. Sembilan Perwira Angkatan Darat yang diangkat sebagai Pahlawan Revolusi. Yaitu, Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI Anumerta R. Suprapto, Letjen TNI Anumerta MT Haryono, Letjen TNI Anumerta Suwondo Parman, Mayjen TNI Anumerta Donald Ignatius Panjaitan, Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, Brigjen TNI Katamso Dharmokusumo, Kolonel Inf Anumerta Sugiyono, Kapten Czi Anumerta Piere Tendean.
Koleksi yang dipamerkan berupa perlengkapan militer dan pribadi Pahlawan Revolusi, foto Pahlawan Revolusi, dan riwayat hidup singkat.

Ruang 20: Ruang Penumpasan G 30 S/PKI
Koleksi yang dipamerkan. Antara lain benda-benda bukti sejarah alat propaganda G 30 S/PKI yaitu senjata api, senjata tradisional, bendera PKI, buku-buku doktrin PKI dan alat transportasi sepeda. Ada Operasi Militer penumpasan PGRS/Paraku di Kalimantan, mobil sedan Holden Special yang pernah digunakan Panglima Mandala Mayjen TNI Soeharto dalam Operasi Militer Pembebasan Irian Barat tahun 1963, serta seragam darah mengalir komandan RPKAD Kolonel Inf Sarwo Edhi Wibowo.

Display di Luar Gedung
Di Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama, benda koleksi yang dipamerkan bukan hanya di dalam gedung. Namun ada yang di luar gedung. Semuanya tertata pada lokasi masing-masing:

  1. Di halaman depan Gedung Museum dipamerkan seperti Tank Stuart MK I dan Tank Stuart MK III yang dipakai dalam operasi penumpasan pemberontakan AUI, MMC dan G 30 S/PKI di Jawa Tengah, Meriam Bofors, Meriam Gunung caliber 75 mm yang dipergunakan TNI pada Palagan Ambarawa tahun 1945 dan Meriam Gunung caliber 37 mm penyerahan dari Mayor Jenderal Meijer, Panglima Tentara Belanda di Jawa Tengah kepada Panglima Divisi III/Diponegoro, Kolonel Gatot Subroto.
  2. Di taman sebelah kanan gedung induk museum terdapat Meriam AT, SMS Browning dan 2 buah bom.
  3. Di taman sebelah kanan gedung belakang (R.11 – 18) terdapat Ruang Bawah Tanah yang dibangun bersamaan waktu dengan berdirinya gedung museum ini. Ruang ini oleh pendiri diperuntukkan sebagai tempat persembunyian bagi yang menempati. Di samping itu, terdapat pula Tank Stuart MK I.

Koordinat:

7°46′58″LS 110°22′32″BT

Lokasi:

Jalan Jenderal Sudirman Nomor 75 Kota Yogyakarta.
Untuk sampai ke lokasi ini, selain menggunakan kendaraan pribadi bisa dicapai dengan kendaran umum.
Terutama bus kota:

  • Menggunakan TransJogja jalur 1A. Turun di halte depan Bethesda
  • Menggunakan bus umum jalur 1B, 2A, 2B turun di halte Jalan Cik Ditiro, jalan kaki sekitar 200 meter.
  • Bus kota jalur 2,4, 10, bisa turun di sekitar perempatan Gramedia. Jalan kaki sekitar 100 meter.

Jam Buka:

  • Setiap hari Senin sampai Kamis, mulai pukul 08.00 sampai pukul 13.00 .
  • Hari Jumat, mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 11.00 .
  • Hari Minggu, mulai pukul 08.00 sampai Pukul 12.00.
  • Ingat, hari Sabtu dan Libur Hari Besar Nasional tutup. Untuk tiket, sukarela.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec