02
Oct-2015

Borobudur Tetap Buka, Meski Dalam Perbaikan

Balai Konservasi Borobudur (BKB) masih memiliki tugas berat. Yakni menyesaikan perbaikan Candi Borobudur. Balai yang mengurusi candi Buddha tersebut memiliki target, akhir November 2015 harus selesai.

Para pekerja tengah sibuk memperbaiki celah-celah candi yang terbuka. Dalam melaksanakan perbaikan, para pekerja dituntut teliti dan mengedepankan kesabaran tingkat tinggi. Kalau sedikit saja salah, akan berefek buruk bagi candi terbesar di dunia ini. Bagaimana tidak, tugas yang dilakukan adalah fokus pada perbaikan pemasangan lantai candi Buddha yang mengalami kebocoran.

Kepala BKB Marsis Sutopo mengatakan, upaya perbaikan ditargetkan selesai pada akhir November mendatang. Sejauh ini, petugas tengah mengerjakan perbaikan kebocoran lantai candi sisi Timur.

“Sudah dicek, apa mengalami kebocoran atau tidak. Kalau sudah selesai masang lid-nya, pengerjaan sudah mencapai sekitar 60 persen,” kata Marsis, baru-baru ini.

Ia menambahkan, pelapisan kedap air di dinding candi yang ada di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini dilakukan dengan cara melapisi dengan timah. Selanjutnya, dilanjutkan dengan melapisi dengan bahan lain, yakni araldit. Zat berwarna hitam ini mampu melindungi kebocoran, karena sifatnya yang kedap air. Araldit yang menyerupai aspal tersebut, oleh BKB didatangkan secara khusus dari Jerman.Candi Borobudur 1

Koordinator Pemeliharaan BKB Yudi Suhartono mengatakan, pelapisan dengan araldit ini merupakan tahapan, setelah registrasi dan pembongkaran batu candi. Setelah itu, dilakukan pengujian terhadap lapisan kedap air tersebut. Juga pemasangan batu candi yang dibongkar.

Sedangkan Kepala Seksi Layanan Konservasi BKB Iskandar M. Siregar menegaskan, setiap upaya konservasi, petugas selalu melapisi dengan cairan Araldit. Tujuanya agar terhindar dari bocor yang berpotensi merusak batuan candi.

“Kami mengujinya pada musim kemarau ini. Biar saat musim hujan, bisa langsung aman,” kata Iskandar.

Iskandar mengatakan, penggunaan Araldit dan pengerasnya bergantung pada lapisan batu yang akan diolesi lapisan kedap air ini. Jika batu yang diolesi kasar, tentu akan membutuhkan Araldit lebih banyak. Karena, semua tergantung pada permukaan batuan dan nat-nya.

Menurut Iskandar, kebocoran drainase ini terjadi usai pemugaran kedua Candi Borobudur. Kebocoran  candi muncul pada dinding lorong I di tingkat IV sisi Timur. Penanganan kebocoran ini menjadi salah satu langkah mengantisipasi terjadinya pelapukan batuan. Dampak adanya kebocoran dinding, candi menjadi lembab dan mudah ditumbuhi lumut, jamur, dan efek yang paling parah adalah terjadinya pelapukan batuan. Anggaran yang dibutuhkan untuk menangani kebocoran masuk dalam anggaran pemeliharaan rutin Rp 300 juta setahun.

Meski tengah diperbaiki, PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko memastikan, candi tetap terbuka bagi wisatawan, baik dalam negeri maupun mancanegara. Sejauh ini, wisatawan tetap bisa menikmati keindahan candi yang telah masuk dalam tujuh keajaiban dunia tersebut.(*)

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec