05
Jul-2019

Candi Kedulan, Rekonstruksi Candi Penuh Teka-Teki

Jikalau biasanya kita menikmati candi dalam bentuknya yang utuh, di situs Candi Kedulan kita justru disuguhi proses rekonstruksi candi nan rumit.

Membangun kembali sebuah candi boleh jadi lebih rumit daripada mendirikan apartemen belasan lantai. Ratusan batu candi yang menumpuk di penjuru situs Candi Kedulan adalah buktinya. Semenjak ditemukan secara tidak sengaja oleh para penambang pasir pada 24 September 1993, Candi Kedulan hingga kini belum juga selesai direkonstruksi. Ada ratusan batu yang harus dicocokkan dan dipadupadankan agar candi bisa berdiri lagi. Padahal, tak ada sama sekali petunjuk cara penyusunan dan pencocokannya. Perlu diingat juga, candi-candi jaman dahulu dibangun tanpa perekat semen. Batu-batu yang ada dipadupadankan sedemikian rupa sehingga bisa saling mengunci dan kokoh. Saking rumitnya pemasangan ini, bisa jadi sebuah pasangan batu baru bisa dicocokkan setelah memakan waktu seminggu lebih.

Situs Kedulan 5Candi yang terletak di Dusun Kedulan, Desa Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta ini ditemukan dalam keadaan runtuh dan terbenam oleh lahar vulkanik dan sedimen setebal 8 m yang tersusun atas 15 lapisan sedimen. Dari hasil observasi geologi, diketahui candi tersebut terpendam karena tertutup aliran lahar dari letusan Gunung Merapi yang terjadi dalam beberapa periode. Dilihat dari jenis tanah yang menutup candi yang kini telah dibuka atau dilakukan pengerukan, terlihat ada 13 lapis jenis lahar, sehingga diperkirakan lahar yang mengubur candi tersebut berasal dari 13 kali letusan Gunung Merapi. Di beberapa bagian batu masih terdapat jejak-jejak letusan Merapi tersebut.

Situs Kedulan 3Ketika berkunjung ke situs ini, kita akan menjumpai lokasi penggalian kompleks candi sedalam 7 meter. Batu-batu candi yang sudah dikumpulkan tersebar di segala penjuru. Bagian kaki candi induk tampak masih menyatu. Di sekeliling lokasi penggalian dijumpai batu-batu candi yang tengah direkonstruksi dengan cara mencocokkan batu satu dengan batu lainnya. Batu yang telah berhasil dicocokkan diberi simbol-simbol tertentu yang ditulis menggunakan kapur. Tampak konstruksi sementara bangunan pagar pembatas selasar candi, atap, bilik candi dan beberapa bagian tubuh candi lainnya. Di sinilah kesenangan berbeda saat mengunjungi sebuah candi akan didapatkan. Kita bisa mengira-kira dan membayangkan batu-batuan tersebut disusun sehingga membentuk candi utuh. Tentu saja, bayangan dan imajinasi tiap pengunjung boleh jadi bakal berbeda.

Candi Penuh Teka-Teki

Di dekat candi terdapat serpihan kayu dan puing-puing pohon yang tampak begitu asing dengan lingkungan sekitarnya. Dari pengamatan lapangan, diduga puing pohon tersebut berasal dari masa candi ini berdiri.

Situs Kedulan 2Tak jauh dari tumpukan batu yang kini telah diatapi , terlihat lingga dan yoni yang diduga merupakan komponen pengisi bilik candi. Yang menarik, relief naga di bawah yoni figurnya berbeda dengan naga penghias yoni candi di Jawa Tengah lainnya. Relief naga di situs Candi Kedulan terlihat memiliki rahang. Di beberapa bagian dinding candi, terdapat pula beberapa relief dewa hiasan sulur-suluran, roset, serta relief motif batik.

Pada 12 Juni 2003, ditemukan 2 buah prasasti di lokasi penggalian. Prasasti yang ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta tersebut berhasil dibaca oleh dua epigraf Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yaitu Dr. Riboet Darmoseotopo dan Tjahjono Prasodjo M.A. Prasasti berangka tahun 791 Saka (869 Masehi, atau sekitar 10 tahun setelah Candi Prambanan berdiri), berisi pembebasan pajak tanah di Desa Pananggaran dan Parhyangan, pembuatan bendungan untuk irigasi, pendirian bangunan suci bernama Tiwaharyyan serta ancaman kutukan bagi siapapun yang tidak mematuhi aturan.

Beberapa arkeolog menduga prasasti tersebut berkaitan dengan pendirian Candi Kedulan. Bangunan suci Tiwaharyyan diduga merupakan Candi Kedulan itu sendiri. Desa Pananggaran dan bendungan yang diceritakan pada prasasti kemungkinan berada di sekitar candi. Namun, sampai kini belum ditemukan jejak bendungan kuno yang dimaksud. Mungkin bendungan itu dibangun di Sungai Opak yang berjarak sekitar 4 km dari lokasi candi, atau mungkin juga di sungai yang kini sudah tidak ada lagi karena tertutup lahar letusan Gunung Merapi seribu tahun silam.

Situs Kedulan 4Sisi barat situs Candi Kedulan berbatasan langsung dengan Sungai Wareng. Sungai yang berjarak sekitar 500 m dari Candi ini adalah salah satu sungai yang mengalirkan air dari utara ke selatan sepanjang tahun. Saat musim penghujan permukaan air sungai naik mendekati permukaan tanah sehingga mempengaruhi permukaan air bawah tanah yang menjadi dangkal. Tak heran, di puncak musim penghujan, candi ini bagaikan berdiri di tengah danau. Bisa jadi, pada jaman dahulu candi ini memiliki fungsi yang sangat erat berhubungan dengan pengairan.

Begitu banyak teka-teki di candi ini yang menunggu untuk dipecahkan. Setiap temuan baru akan menggelitik imajinasi kita untuk mereka-reka dan merekonstruksi kembali sosok Candi Kedulan di masa lampau.

0

 likes / One comment
Share this post:
  • Prsetiadi says:

    pingin juga nih mampir kesini

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    code

    Archives

    > <
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec