21
Jul-2014

Di Kerto, Kejayaan Mataram Itu Pernah Ada

Masjid Taqqarub yang beberapa bagiannya masih berupa peninggalan asli.

Sangat sedikit yang tahu jika Sultan Agung Hanyokrokusuma mengendalikan pemerintahannya dari sebuah daerah bernama Kerto. Kini pun orang juga hampir tidak peduli dengan situs bekas ibu kota Mataram Islam yang paling jaya sepanjang sejarah Mataram itu.

Selepas ibu kota Mataram berada di Kotagede, Sultan Agung memindahkan ibu kota ke Kerto disebelah selatan Kotagede. Kepindahan ke Kerta sebenarnya sudah dimulai saat ibu kota Mataram masih berada di Kotagede pada tahun 1614 dan baru ditempati pada tahun 1618.
Dari sini Sultan Agung yang bergelar Sultan Agung Senapati ing Ngalaga Abdurrahman mengendalikan roda pemerintahannya. Termasuk 2 penyerangan fenomenal dalam Situs Kertousaha penaklukan Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Meskipun kedua serangan Mataram ke Batavia yang dikuasai VOC gagal, toh serangan kedua membuat Gubernur Jenderal VOC Jaan Pieter Zoon Coen meninggal dunia diduga akibat wabah kolera yang diciptakan para prajurit Mataram dengan cara membendung dan mengotori sungai Ciliwung hingga membuat wabah kolera di sana.
Kini, jika berkunjung ke situs Kerto, maka petilasan yang masih tampak adalah dua batu besar berupa umpak berdiameter hampir satu meter. Umpak itu sebagai penyangga saka guru bangunan utama keraton. Sebenarnya ada 3 umpak yang masih berada di situ. Satu yang lain kini berada di Masjid Saka Tunggal di dekat Taman Sari, Yogyakarta sebagai umpak Situs Kertopenyangga utama saka tunggal di dalam masjid.
Di dekat umpak yang sekarang dikelilingi kawat berduri dan tiang cor beton itu juga terdapat seperti anak tangga. Konon tangga itu menuju siti hinggil, bagian tertinggi keraton. Warga sekitar juga sering menyebut daerah itu sebagai lemah dhuwur, tanah tinggi.
Jika kini kita sedang berada di tengah-tengah situs Kerto, ada rasa yang membuat diri kita merasa masih berada di tengah-tengah keraton berabad yang lalu. Dan kita pun seperti sedang tidak percaya, bahwa di pelosok pojok tenggara Kota Jogja berdiri kerajaan yang pangkuan kekuasannya sampai Situs Kertohampir di seluruh Nusantara. Ada banyak yang berpendapat, Sultan Agung memerintah kerajaan dengan sahaja tetapi kegemarannya memperluas wilayah membuat Mataram menjadi jaya di zamannya.

Jejak Mataram di Kerto tidak hanya itu. Masjid Taqarrub yang kini masih tegak berdiri dan tetap dipakai untuk shalat berjamaah juga bagian dari Mataram di Kerto. Bagan Keraton Mataram selalu ada alun-alun di depan keraton, lalu di barat keraton ada masjid dan di depan alun-alun ada pasar sebagai pusat ekonomi. Masjid Taqarrub adalah masjid Keraton Mataram di Kerto zaman Sultan Agung jumeneng.
Empat tiang utama masjid yang berada di tengah-tengah bangunan utama ini sekarang ditinggikan sekitar 120 sentimeter dari ukuran aslinya. Serambi juga diperlebar Situs Kertodan diperluas. Seiring perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat kini bangunan masjid diperbarui. Tetapi 4 saka guru yang menjadi tiang bangunan utama tidak pernah diganti dan bangunan utama masjid masih utuh seperti sedia kala.
Keaslian yang lain juga tampak dengan adanya plakat tanda dari Patih Danureja yang ke-9 yang isinya lebih kurang tentang pemugaran Masjid Taqarrub. Plakat itu bertuliskan huruf Jawa dengan beberapa tulisan tahun aksara Arab. Ada dua plakat yang berada di dalam masjid, semua tergantung di serambi menuju ke pintu masuk masjid utama.
Di samping utara masjid terdapat sebuah prasasti dari masa Hindu berbentuk lingga. Prasasti ini sebagai penanda bahwa tanah di daerah tersebut telah diberikan oleh penguasa untuk masyarakat sekitar. Tidak diketahui secara pasti tentang detail isi prasasti. Prasasti tersebut merupakan duplikat dari prasasti asli yang sekarang tersimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY.

Lokasi:
Keduanya, Situs Kerto dan Masjid Taqarrub berada di Dusun Kanggotan, Desa Sebuah kayu berukir pada puncak beranda masjid.Kerto, Kecamatan Pleret, Bantul.

 

Transportasi:
Disarankan dengan kendaraan pribadi. Hampir semua lokasi ini menyatu dan seiring dengan jalur menuju Situs Keraton Pleret yang berjarak lebih kurang 16,5 kilometer arah tenggara Kota Jogja.

IMG_5500+Kuliner:
Sama dengan saat berada di Situs Keraton Pleret yang di sepanjang jalan dipenuhi dengan warung-warung sate yang cukup melegenda.

 

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec