20
Mar-2019

Murid-Murid TK ABA Kendalgrowong, Muntilan Lakukan Outbond ke Omah Limasan

Pagi begitu cerah. Matahari di ufuk Timur sudah terlihat sinarnya. Hangat sinar surya menyapa anak-anak dari TK ABA Kendalgrowong, Muntilan. Paras anak-anak berseri-seri. Mereka sudah membayangkan akan ramainya bermain. Ya, keceriaan terpancar pada wajah-wajah anak-anak. Ada Fuza, Bening, Cici, Emi, Uki, Adit, Adya, dan teman-teman lainnya. Anak-anak sudah membayangkan akan gembiranya bermain di alam. Pada hari itu (14 Febuari 2019), mereka akan melaksanakan outbond di sebuah kampung di lereng Merapi. Tepatnya di Dusun Grawah, Desa Ngadipuro, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

           Sepagi itu, mereka sudah berkumpul di sekolah. Mereka harus berangkat dari sekolah pukul 07.30. Karena, jarak sekolah dengan lokasi, sekitar empat kilometer. Sebanyak 40 anak didampingi empat guru, bersama orang tua para siswa berangkat ke lokasi outbond. Sekitar 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya tiba di lokasi outbond.

            Pukul 08.00, acara outbond yang dikoordinir oleh Omah Limasan Outbond dan Kuliner dimulai. Pertama-tama, anak-anak diajak menggambar caping atau topi tradisional dari bambu yang biasanya dimiliki petani, dengan cat warna-warni. Semua menuangkan imaginasi dan kreativitas masing-masing, dipandu Guru Seni Lukis Bang Ucup. Sesi acara ini berlangsung lancar.  Anak-anak mewarnai caping selama 30 menit.  Begitu selesai, mereka memakainya untuk kegiatan berikutnya.

            “Aku menggambar bunga matahari dan kupu-kupu. Aku seneng banget hari ini,” ungkap Bening, salah satu siswa TKA ABA Kendalgrowong, Muntilan.

Semua anak mengekspresikan coretan tangan dalam gambar yang disukainya. “Aku melukis ayam dan bebek”sergah Adit disertai senyum lebarnya.

RIANG; Anak-anak bermain tubing di sungai kecil dekat omah Limasan di Grawah, Ngadipuro, Dukun, Magelang, Jawa Tengah,

            Selanjutnya, anak-anak digiring ke sawah. Lokasinya tak jauh dari tempat anak-anak menggambar di halaman Omah Limasan Grawah, sekitar 50 meter. Mereka beramai-ramai turun ke sawah. Di tempat itu, anak-anak diajari cara tandur atau menanam padi. Raut keheranan terlihat dari wajah anak-anak. Namun, keheranan tersebut berganti kegembiraan saat terjun langsung ke sawah. Mereka merasakan langsung lendut (lumpur), air, dan juga mengetahui secara langsung cara menanam.  Momen cara menanam padi ini dipandu oleh Kak Teguh, salah satu anggota Karang Taruna Dusun Grawah. Memang, manajemen Omah Limasan Outbond dan Kuliner menggandeng beberapa pemuda anggota karang taruna setempat untuk menjadi pemandunya.

            Usai menanam padi, acara dilanjutkan dengan tubing ban di sungai kecil yang juga tak jauh dari Omah Limasan Outbond dan Kuliner. Ini dipandu oleh Kak Ata dan Kak Purwanto. Anak-anak terlihat gembira dan merasakan sensasi bermain tubing ban. Acara berlangsung hampir 60 menit. Kemudian, anak-anak diajak menangkap ikan di kolam. Semua bergembira. Rata-rata, mereka mengaku baru pertama kali menangkap ikan, langsung di kolam. Proses outbond berakhir pukul 12.30, dilanjutkan makan siang. Setelah mandi dan berganti pakaian, anak-anak beserta para guru pendamping dan orang tua beramai-ramai menikmati makan siang, soto khas Omah Limasan Outbond dan Kuliner.

            Di sela acara, Kepala Sekolah TK ABA Kendal Growong Muntilah Hidayati Spd mengaku, baru pertama kali mengagendakan outbond bagi murid-muridnya. Sebenarnya, sudah sejak dulu ingin menggelar outbond bagi siswa TKA ABA, dengan tujuan untuk mengenalkan ke alam.

            “Gayung bersambut, ternyata ada di sini (Ngadipuro, red) dan biayanya cukup terjangkau, per anak dikenai Rp 50 ribu, sudah komplit,” ungkap Hidayati.

            Semua orang tua ingin memiliki anak yang displin, cerdas, dan mencintai lingkungan. Tentu harapan itu tidak berlebihan. Murid-murid TK ABA Kendalgrowong Muntilan juga diajari hal yang sama. Yakni, displin dan cerdas, serta memiliki kepedulian dengan lingkungan sekitarnya. Lalu, seperti apa guru mendidiknya?

            Ia mengaku puas dan ingin menggelar outbond setiap tahun. Apalagi ada harapan dari pihak sekolah yang ingin anak-anak TK ABA Kendalgrowong Muntilan mengerti dan merasakan bermain di alam terbuka, anak-anak mengetahui bagaimana petani bekerja menanam padi, mengetahui bagaimana cara menangkap ikan, dan outbond itu mengajak anak-anak memiliki kebersamaan. “Tentu saja, dibungkus dengan aneka permainan yang  ada,” paparnya.

            Ditambahkan, layanan outbond di tempat itu sangat cocok bagi anak-anak. Apalagi hasil karya anak berupa caping yang dilukis dan ikan yang boleh dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.  Hidayati mengaku senang, selain menu makan siang yang enak, aneka kudapan khas lereng Merapi, seperti ubi jalar rebus, talas, dan jagung rebus hangat sangat pas dinikmati dengan suasana pedesaan yang ada.

            Pengelola Omah Limasan Outbond dan Kuliner Susilo Pranoto mengaku, dengan menyiapkan gelaran outbound bagi murid TK dan SD ini, ada keinginan darinya untuk mengajarkan anak-anak lebih mencintai alam. Bagaimanapun, anak-anaklah yang akan mewarisi alam sekitar yang ada. Ia berharap, dengan melibatkan pemuda karang taruna setempat, juga menumbuhkan dan menggugah generasi muda desa (karang taruna) lebih produktif dan inovatif mengembangkan potensi desa.

            Selain outbond tersebut, lanjut Susilo, tempat itu juga bisa dipesan sebagai tempat pertemuan, rapat, atau sekedar menikmati kuliner yang ada. Memang, sistemnya harus pesan dulu dan belum melayani kunjungan dadakan.  Menunya special rica-rica enthok dan iwak Kali Elo. Namun, ia tidak menutup kemungkinan pesan menu yang, sesuai keinginan tamu.

            Khusus outbond, di tempat itu, juga tersedia aneka permainan lain. Seperti egrang batok (egrang dari batok kelapa), egrang bambu, juga berwisata ke situs Candi Sengi dengan perjalanan naik jeep. “Dengan paket Rp 75 ribu per anak, sudah bisa melakukan wisata edukasi ke candi-candi yang ada di sekitar Kecamatan Dukun. Yakni, Candi Asu, Lumbung, dan Pendem, dengan naik jeep ke lokasi tersebut,” katanya.

Upaya Menumbuhkan Cinta Lingkungan

            Secara umum, murid sekolah memiliki kecenderungan kurang mencintai lingkungan. Kekurangan tersebut dikarenakan pengenalan akan lingkungan  yang jauh dari cukup. Padahal, dalam perkembangan yang ada, lingkungan yang ditata cukup baik dan asri serta dikelola dengan baik, bisa menjadi obyek pariwisata. Pengembangan dan pengaturan lingkungan yang dibuat menarik dalam perkembangannya bisa menjadi tujuan wisata edukasi.

SENI LUKIS: Anak-anak diajak memupuk kreativitas dan berkesenian dengan mengajarkan mereka melukis di caping.

Contohnya sudah banyak di Kabupaten Magelang. Beberapa tempat seperti Taman Papringan, Taman Ramadanu, Taman Kitiran, dan Taman Naura bermula dari penataan lingkungan yang bagus. Demikian juga Kebun Buah Pinggir Sungai Senowo buatan Edy Sulistyono di dekat Pasar Talun, Kecamatan Dukun, yang mengkonversi bekas tambang pasir menjadi lahan produktif dan mulai mengembangkan pembuatan kolam untuk terapi, memancing, feeding dan swimming. Istilahnya menggabungkan antara agriculture dengan wisata wahana air.

            Bagaimanapun, proses tersebut membutuhkan pendidikan lingkungan hidup yang tepat. Memang, sejauh ini pendidikan lingkungan hidup pada pendidikan anak usia dini masih belum optimal. Ini diakui oleh Kepala Sekolah TK ABA Kendal Growong Muntilah Hidayati SPd. Padahal, ungkap Hidayati, perubahan yang terjadi pada lingkungan akan berpengaruh secara langsung pada kualitas kehidupan manusia.

            “Pengelolan lingkungan yang buruk timbul sebagai akibat dari kurangnya kesadaran manusia dalam memelihara lingkungan, ketidakpedulian, dan kurangnya pemahaman tentang pelestarian lingkungan sekitarnya memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan mereka,” papar Hidayati.

            Hidayati mengutip Psikolog Sullivan dalam buku berjudul School Improvement, School Effectiveness or School Development tulisan C. Bezzina and Paul Pace (2006), yang menyatakan, bahwa lingkungan merupakan masalah sosial dan bukan masalah alamiah semata. Terkait peran guru, menurut Tokoh Pendidik Dunia J. Lang (2007), guru harus mempersiapkan siswa untuk belajar dalam lingkungan dan menggali lebih dalam.

            “Mengutip dari pendapatnya, belajar mengenai lingkungan mengharuskan siswa untuk mengembangkan kemampuan dalam melihat, menginterprestasi, memecahkan masalah dan membangun teori, serta pelaporan dan mengambil tindakan atas informasi yang dihasilkan dari belajar,” jelas Hidayati.

            Sementara itu, Pengelola Omah Limasan Outbond dan Kuliner Susilo Pranoto yang juga aktivis Relawan Pemantau Merapi ‘Linang Sayang’ Muntilan ini mengungkapkan, berdasarkan UU RI Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dinyatakan bahwa Pendidikan Lingkungan Hidup diartikan sebagai upaya mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan berrbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan generasi sekarang dan yang akan datang.

            “Pakar Pendidikan Dunia William B. Stapp mengatakan, Pendidikan Lingkungan Hidup adalah proses yang bertujuan mengembangkan penduduk dunia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan secara utuh serta permasalahan yang berhubungan dengan lingkungan, yang memilikki pengetahuan, sikap, motivasi, komitmen, dan ketrampilan dalam berinteraksi dengan semua komponen lingkungan,” ungkap pria yang aktif dalam penghijauan lereng Merapi ini.

            Melalui interaksi guru dengan siswa, tujuan dalam mencapai pembelajaran akan tercapai secara maksimal. Oemar Hamalik, salah satu pakar pendidikan dalam negeri menulis, pembelajaran merupakan kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

            “Untuk mendukung itu, perlu penekanan pada kegiatan belajar siswa yang telah dirancang oleh guru melalui usaha yang terencana melalui prosedur atau metode tertentu agar terjadi proses perubahan perilaku secara komprehensif,” kata Hidayati.

            Permasalahan yang selama ini muncul adalah lebih banyak teori dan kurang praktik. Padahal, anak perlu diajak untuk mengenal langsung mengenai lingkungan mereka. “Semua anak kami wajibkan mengetahui apa itu sawah, sungai, air, ikan dan lainnya secara langsung. Kami akui, program ini baru pertama kali diujicobakan. Namun, melihat antusias anak dan orang tua, sekolah kami akan menggagendakan setahun sekali untuk awalnya. Selanjutnya, akan dikembangkan pola lain, seperti pengembangan dari outbond ini. Seperti mengenalkan ternak, seperti sapi, kambing, pengelolahn susu atau pengelolahan sayuran atau hasil tanaman, hingga ke obyek obyek wisata alam sebagai bagian dari wisata edukasi. Satu lagi yang penting, para orang tua juga antusias dan mendukung program ini,” tekas Hidayati.

            Semua itu diamini Susilo Pranoto. Menurutnya, perhatian stake holder masih kurang. Seharusnya, pemerintah mendorong lembaga edukasi non-formal semacam lembaga outbond yang dimiliki tersebut untuk eksis. Caranya, mewajibkan semua sekolah melakukan outbond untuk siswanya.

            “Secara umum, anak akan mengenal dan mencintai lingkungan. Kami sebagai pengelola juga bisa memperdayakan anak-anak muda di kampung ini, dan ke depan bisa mengembangkan sebagai tujuan pariwisata, wisata kuliner dan wisata alam,” kata Susilo berharap.

            Ia tidak menampik edukasi akan lingkungan kurang memasyarakat. Semua itu dikarenakan anggapan bahwa outblond di-image-kan susah dan mahal. Padahal, semua itu bisa dibicarakan dan bisa dibuat paket yang ‘masuk akal’ buat anak-anak dan orangnya. Demikian pula paket-paket yang ditawarkan, banyak sekali pilihan.

            “Semua bisa disesuaikan dengan kemampuan anak, orang tua, dan pihak sekolah. Intinya, tidak sak klek atau tidak bisa dibicarakan. Prinsipnya, kami akan memberi kemudahan. Karena, tujuan utama adalah edukasi buat anak dan pemberdayaan anak muda atau karang taruna,” tegasnya.

 Ajak Anak Berinteraksi dengan Lingkungan 

            Teori belajar yang digunakan untuk mengembangkan model pembelajaran lingkungan ini adalah teori belajar konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan teori tentang struktur pengetahuan. Konstruktivis sendiri berdasar penelitian yang dilakukan Pakar Psikologi Pendidikan Jean Piaget menunjukkan, pada dasarnya anak secara aktif menafsirkan pengalaman mereka di dunia fisik dan sosial dan untuk membangun pengetahuan, kecerdasan, dan moralitas mereka sendiri. Anak-anak membangun pengetahuan mereka sendiri, karena mereka memiliki begitu banyak ide yang tidak semuanya mereka dapatkan.

PERTAMA KALI: Anak-anak diajak menangkap ikan secara langsung di kolam ikan. Mereka banyak yang kaget ternyata cara menangkat ikan tidak mudah, namun mereka senang dengan pengalaman itu.

            Dosen Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta Dr Mujidin MSi dalam setiap kesempatan mengatakan, pemahaman konstruktivis digagas dua pakar psikolog dunia, Jean Piaget dan Lev Vigotsky. Pada dasarnya, ungkap Doktor dari Universitas Sains Malaysia ini, bisa dipahami asumsi konstruktivis bahwa anak-anak aktif membangun pengetahuan.

            “Dalam membangun pengetahuan dilakukan berdasar pengalaman. Anak-anak membangun pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan,” papar Mujidin yang juga Ketua Program Studi Magister Psikologi UAD ini.

            Ditambahkan, dalam pandangan konstruktivis, kematangan dan pengalaman lingkungan memainkan peranan penting dalam proses pembelajaran. Menurut pandangan ini, pengetahuan pada dasarnya dibangun anak-anak melalui interaksi dengan lingkungan.

            “Sebagaimana pendapat Rogoff (1990) yang berasumsi, pendekatan konstruktivis menekankan keterlibatan anak dalam proses pembelajaran. Untuk itu, guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan hangat melalui bermain dan berinteraksi dengan lingkungan, sehingga mendorong partisipasi  aktif anak-anak. Piaget juga menambahkan, bahwa perkembangan anak terjadi melalui urutan yang universal dan setiap tahap pembangunan ditandai dengan karakteristik tertentu dalam cara berpikir dan melakukan. Proses pengembangan berpikir bergeser dari cara berpikir kongkrit ke berpikir abstrak,” jelasnya.

            Dari pandangan Lev Vigotsky, konteks sosial sangat penting dalam proses pembelajaran seorang anak. Pengalaman interaksi sosial sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir anak-anak. Interaksi antara anak dan lingkungan sosial mereka akan menciptakan  bentuk-bentuk baru aktivitas mental yang tinggi.

            “Baik piaget maupun Vigotsky menekankan pentingnya kegiatan bermain sbagai sarana pendidikan anak-anak. Terutama yang berkaitan dengan perkembangan pemikiran kapasitas. Interaksi dilakukan anak dengan lingkungan sekitarnya,” kata Mujidin.

            Outbond, tegas Mujidin, bisa menjadi sarana untuk pembelajaran lingkungan bagi anak. Dari outbond juga bisa dikembangkan karakter anak. Seperti melatih keberanian, kemandirian, kecerdasan dan mencintai lingkungan. Selain itu juga memacu kreativitas dan kemmapuan berpikir anak, sehingga menjadikan si anak lenbih berani, percaya diri dalam berkomunikasi. Karakter anak yang baik akan berpengaruh pada cara hidup yang ada (budaya) pada anak dalam keseharian. (***)

Heru Setiyaka, jurnalis pada www.jalanjogja.com

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec