16
Jan-2019

Jamasan Pusaka, Ritual Langka Penuh Makna

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/02/jamasan2.jpg” align=”right” lightbox=”true” title=”Jamasan Pusaka, Ritual Langka Penuh Makna” link=”” width=”200″ height=””]Bulan Suro dalam kalender Jawa dimaknai sebagai saat tepat untuk membersihkan diri. Sebagai langkah mengawali tahun baru di kalender Jawa, maka berbagai laku prihatin yang intinya sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar tetap eling lan waspada banyak dilakukan masyarakat Jawa. Eling artinya harus tetap ingat siapa dirinya dan asal mulanya. Sedangkan waspada bisa diartikan sebagai sikap yang selalu cermat dan terjaga atau waspada terhadap segala godaan yang bisa menyesatkan.

Sejak berabad-abad silam kegiatan dilakukan masyarakat Jawa untuk mengisi bulan Suro. Bentuknya bermacam-macam. Termasuk salah satunya adalah merawat benda-benda pusaka. Berbagai macam benda, termasuk pusaka oleh orang Jawa dianggap memiliki jiwa. Oleh karena itu, benda-benda itu harus diperlakukan istimewa yang nyaris sama seperti manusia itu sendiri.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/02/jamasan3.jpg” align=”left” lightbox=”true” title=”Jamasan Pusaka, Ritual Langka Penuh Makna” link=”” width=”200″ height=””]Yang jelas, untuk benda-benda milik Keraton Yogyakarta seperti kereta, gamelan, maupun pusaka, semuanya memiliki nama seperti manusia. Ada Kiai Sangkelat, Kiai Nagasasra (keris), Kiai Guntur Madu (gamelan), ada pula Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Puspakamanik (kereta). Benda-benda itu selalu dicuci yang diistilahkan dengan nama ”dijamasi” pada bulan Suro (Muharam) dan selalu pada hari istimewa Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/02/jamasan4.jpg” align=”right” lightbox=”true” title=”Jamasan Pusaka, Ritual Langka Penuh Makna” link=”” width=”200″ height=””]Cara jamasan itu sendiri juga khas. Semua yang terlibat dalam ritual itu harus mengenakan pakaian adat Jawa peranakan. Mereka, semuanya laki-laki, mengenakan kain panjang, surjan, dan penutup kepala blangkon. Untuk Kraton Yogyakarta, prosesi tidak akan pernah meninggalkan jamasan untuk kereta Kanjeng Nyai Jimat. Kereta ini buatan Portugis tahun 1750-an, dan merupakan hadiah dari Gubernur Jenderal Belanda di Batavia, Jacob Mossel, untuk Sri Sultan Hamengku Buwono I. Kanjeng Nyai Jimat menjadi tunggangan utama Sultan HB I – IV. Kereta itulah yang setiap bulan Sura selalu dijamasi karena dianggap sebagai kereta cikal-bakal. Ada pula kereta Kyai Garudayaksa.

Berbentuk anggun, bergaya kereta kerajaan-kerajaan Eropa, beroda empat, dua buah yang besar di belakang, dan dua buah di depan agak kecil, diperkirakan ditarik oleh enam sampai delapan kuda. Sebuah simbol kewibawaan seorang raja. Kereta yang penuh ukiran itu sendiri memiliki pintu dan atap sehingga mirip mobil.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/02/jamasan5.jpg” align=”left” lightbox=”true” title=”Jamasan Pusaka, Ritual Langka Penuh Makna” link=”” width=”200″ height=””]Jamasan dimulai pukul 10.00 WIB. Diawali doa yang dipimpin seorang pengageng keraton dan diikuti oleh puluhan abdi dalem. Ia lalu membakar kemenyan, lantas meletakkan sesaji kembang setaman. Kemudian, kereta Nyai Jimat pun dikeluarkan dari museum untuk dicuci. Pertama, prosesi jamasan kereta adalah membersihkan kereta dengan air dan air jeruk nipis ke semua badan kereta. Pada saat inilah, warga saling berebutan air sisa pencucian. Mereka, membawa botol, jeriken, panci, dan gayung untuk menampung air bilasan yang menetes dari bawah kereta. Setelah kering, kereta Kanjeng Nyai Jimat kemudian dimasukkan kembali ke museum kereta.

Turut dijamasi juga beberapa pusaka keraton seperti keris pusaka dan tombak Kiai Pleret. Tapi, jamasan pusaka berupa keris dan tombak dilakukan secara tertutup di dalam keraton, tepatnya di Gedhong Pusaka.

Lokasi

Jamasan kereta pusaka dilakukan di depan Museum Keraton Yogyakarta di Jl Rotowijayan. Dari Alun-alun Utara (sebelah Barat) ke arah selatan (ke arah keraton). Di dalam museum inilah tersimpan sekitar selusin kereta yang sebagian besar masih digunakan.

Jadwal

Setiap malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon di bulan Suro. Jamasan biasanya dimulai sekitar pukul 10.00 wib sampai dengan selesai.

[notice type=”green”]Tips
Saat jamasan dilakukan, ribuan warga dari Jogja dan luar daerah berdatangan. Untuk itu, jika Anda memutuskan akan ikut menyaksikan momen langka ini, lebih baik memastikan terlebih dulu seluruh barang yang dibawa dalam kondisi aman. Kendaraan sebaiknya diparkir di sekitar Alun-alun Utara sehingga tidak kesulitan saat akan meninggalkan lokasi.[/notice]

2

 likes / One comment
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec