17
Jun-2019

Kemripiknya Wader Kali Boyong di WTS Pakem

Kuliner   /   Tags: , ,

foto 2Mencari warung dengan menu utama iwak kali di Yogyakarta, banyak tempatnya. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Ada yang menonjolkan rasa, suasana, harganya, atau gabungan dari semua itu. Satu yang bisa dituju, seandainya mencari iwak kali yang menonjolkan rasa, dinikmati di tempat yang enak, serta harga yang murah, WTS tempatnya. WTS bukan berkonotasi negative lho. Karena, WTS merupakan singkatan dari Warung Tengah Sawah. Alasan nama WTS bukan tanpa sebab.

Pemiliknya Widiatmaja mengungkapkan, ia bersama istrinya mendirikan warung pada tahun 2000. Saat itu, setelah lama menjadi sopir truk yang mengangkut material di lereng Merapi, Wiwid-sapaan akrab Widiatmaja, beralih profesi membuka cat keliling. Setiap hari, ia mengerjakan pengecatan mobil. Bengkel tempat ia bekerja di depan warung makan yang masih buka sampai sekarang ini.

foto 3Sementara itu, istrinya, Sri Wahyuni membuka warung makan di rumahnya yang saat itu berdiri sendirian di tengah sawah. Seiring waktu, karena di sekitar Pakem tidak banyak warung makan, bisnis kuliner yang dibuka pasangan suami-istri ini laku keras. Orang yang datang banyak yang cocok dengan menu yang ada. Apalagi, harganya cukup terjangkau  dan rasa yang ditawarkan tidak kalah dengan warung makan di sekitar Pakem yang tengah naik daun, yaitu Morolejar dan Boyong Kalegan.

Karena tidak ada nama, warung yang menyediakan menu utama iwak kali ini, oleh orang yang mampir menamai dengan Warung Tengah Sawah. Agar lebih mudah, mereka menyingkat menjadi WTS.  “Meski berkonotasi negative, karena orang biasa menyebut itu, lama-lama terbiasa juga. Biarlah nama itu yang ada, tidak mengurangi orang untuk berkunjung,” ungkap Wiwid sembari tertawa lebar, baru-baru ini.

foto 4Wiwid menambahkan, WTS tidak mengenal kata libur. Setiap hari, pasti buka, mulai pukul 06.00 hingga 16.00. hanya, ia menyebut tiga hari pada puasa pertama, selalu tutup, untuk menghormati mereka yang puasa. Selain itu, ia memiliki pengalaman, selama tiga hari itu, tidak ada yang beli, dan pilihan terbagus adalah tidak buka.

Rumah yang ada memang ia bangun setelah mendapat warisan sawah. Awalnya, ia berencana membangun sebagai rumah tinggal. Begitu warungnya mulai banyak, karyawan juga mencapai tiga orang. Namun, istrinya masih keteteran. Akhiranya, ia menutup bengkel cat mobilnya, dan sepenuhnya  membantu istrinya.

Menurut Wiwid, ide membuka warung dengan menu utama iwak kali, berawal dari pengalamannya sebagai sopir. Ia seringkali mampir di berbagai warung. Sedangkan pilihan menu utama wader, karena jenis ikan kali ini sangat khas, serta banyak ada di sekitar Pakem.

“Pilihan tetap dari sekitar Pakem sini. Iwak kalinya, berbeda dibanding dengan dari sungai di Selatan, dari waduk, atau bendungan, rasa dan kualitasnya berbeda,” ungkap Wiwid.

foto 6Contohnya, untuk wader, yang dari bendungan, sungai-sungai di selatan, bentuknya lebih besar, sisiknya kaku, dan bila dimakan pasti agak alot. Berbeda dengan wader dari sungai-sungai di sekitar Pakem, seperti Kali Plang dan Kali Boyong, bentuk ikannya lebih kecil dan ramping, sisiknya lembut, dan saat dinikmati, pasti kempripik tidak alot.

“Pernah kita mendatangkan dari Rowopening dan Gedung Ombo, lha, malah diprotes pelanggan. Akhirnya kita stop dan memilih iwak kali dari sekitar sini saja,” tambahnya.

Selain wader, ada juga keong. Sekarang, menu keong diganti kerang, karena sulitnya mencarinya. Ada juga lele, uceng, kotes, belut, udang. Kini, di WTS menambah menu ayam agar pelanggan yang datang bisa mendapat alternative makan. Alasannya, agar bisa bertahan di tengah persaingan bisnis kuliner.

Dalam sehari, wader yang disediakan bisa mencapai 3 kilogram. Sedangkan jenis iwak kali lainnya, berkisar 1-2 kilogram. Pada Sabtu dan Minggu, bisa dua kali lipat, mengingat pembelinya dari kota bertambah. Apalagi mereka yang suka gowes selalu menyempatkan mampir di sini, sekedar mencari menu iwak kali untuk kudapan atau camilan.

foto 5“Jarang yang datang untuk makan. Kalau toh ada yang makan, untuk sayuran juga minta yang khusus, yaitu Sayur Lompong atau batang pohon talas,” katanya.

Di hari biasa, ada 13 sayuran yang biasanya selalu ada. Mulai dari sayur bayung, sayur bayam, sayur terong, sayur kobis, dan masih banyak lagi. Rata-rata sayuran yang ada adalah yang berkuah.

Untuk udang, biasanya WTS menyediakan dalam bentuk rempeyek (peyek). Pelanggan yang dari sekitar, biasanya pada pagi hari, antara pukul 05.30-07.30. Siang hari, biasanya orang kantoran siang hari waktu makan siang, dan pada weekend, mereka yang liburan atau gowes dari kota sampai Pakem.

Sejauh ini, WTS tidak membuka cabang. Alasannya, sudah kewalahan mengurusi satu warung, karena semua dilakukan sendiri. Pasutri ini hanya dibantu dua karyawan. Mereka langsung terjun menangani pembuatan menu-menu tersebut, agar terjaga rasanya.

Koordinat:

Lokasi:

foto 8Warung Tengah Sawah (WTS), Makanan Khas Ikan kali
Jalan Pakem-Turi Km 1, Pakem, Sleman, Yogyakarta
Kontak : 0813-926-537-78
0274-7818278

Jam Buka:

– 06.00 – 16.00 WIB

Harga (harga sewaktu-waktu berubah):

Makanan dan Lauk
–  Nasi Sayur: Rp 4.000,00
–  Wader: Rp 3.000,00 (satu porsi)
–  Udang: Rp 3.000,00 (satu porsi)
–  Keong (peyek): Rp 3.000,00 (satu porsi)
–  Lele: Rp 3.000,00 (satu porsi)
–  Kotes: Rp 3.000,00 (satu porsi)
*) Rata-rata satu porsi memang Rp 3.000,00
*) Juga tersedia uceng, belut, keong, ayam

Minuman
–  Es teh/ teh panas: Rp 2.000,00
–  Es jeruk/ jeruk panas: Rp 2.000,00
–  Kopi: Rp 2.500,00
*) Juga ada Sprite, Coca cola, Fanta

4

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec