22
Jul-2014

Menapaki Jejak Berliku Keraton Pleret 

Situs Keraton Pleret merupakan bekas Keraton Mataram yang dibangun oleh Sunan Amangkurat I (1645-1677) atau lebih dikenal dengan nama Sunan Amangkurat Agung atau Amangkurat Tegalwangi. Sunan Amangkurat Agung memilih memindahkan ibu kota Mataram yang baru ke Pleret dari ibu kota lama di Kerto yang jaraknyatidak jauh dari Pleret. Menurut cerita yang hingga kini diyakini, disebut Pleret karena bergeser arah tempatnya dari barat ke timur: “mlorot” atau “mleret”, berpindah dekat. Jadilah, Pleret.

Masjid Agung Kraton Pleret 1Tidak diketahui mengapa Sunan Amangkurat Agung memilih Pleret daripada tetap berada di Kerto ibu kota Mataram semasa diperintah raja agung Sultan Agung Hanyokrokusuma itu. Menurut Babad Momana pemindahan ke Pleret berlangsung mulai 26 Januari 1648 M, tetapi menurut Babad Sangkala mencatat kepindahan raja ini terjadi tahun 1569 Jawa (1647 M). Di dalam Babad Tanah Jawi disebutkan kepindahan ini karena Sunan Amangkurat Agung sudah tidak bersedia lagi tinggal di bekas keraton ayahnya. Keraton Pleret ini dinamakan Purarya. Setelah dua tahun dari kepindahannya, Masjid Agung Pleret didirikan. Selang satu tahun kemudian Sunan memerintahkan orang-orang Mataram untuk memperluas krapyak ‘tempat berburu binatang’ wetan.

Khusus Masjid Agung terdapat keterangan, di dalam Serat Babad Momana masjid ini didirikan pada tahun 1571 Jawa atau 1649 Masehi dan dalam Babad ing Sangkala menunjuk bulan Muharram 1571 sebagai tahun pembuatan masjid ini. Pada saat penyerangan Trunajaya ke Mataram, Masjid Agung ini menjadi salah satu bangunan yang tidak dirusak oleh pasukan Trunajaya. Menurut Lons dalam tulisan Leemans (1855) Masjid Besar yang berada di Kauman ini juga memiliki ukuran besar dan mewah berbentuk segi empat, mempunyai 3 pintu di sebelah timur dan mempunyai serambi yang luas dengan dikelilingi tembok tinggi dan tebal. Hanya saja, seabad kemudian, sekitar tahun 1800-an Pemerintah Belanda gencar dalam membangun pabrik gula dan salah satunya Pabrik Gula Kedhaton di Pleret dan besar kemungkinan, menurut masyarakat, batu bata Masjid Besar itu termasuk yang digunakan untuk membangun pabrik gula sehingga ikut merusak keadaan bangunan masjid.

Masjid Agung Kraton Pleret 4Pada tahun ini 1647 M seorang utusan Belanda Rijklof van Goens mengunjungi Mataram, dan memberikan kesaksian, saat kedatangannya di Pleret seluruh tembok keliling kraton telah selesai dibuat, dua pintu gerbang di alun-alun utara tempat diadakannya pertandingan tombak telah selesai dibangun. Keliling temboknya seluas 2.256 meter. Rouffaer yang mendatangi bekas Keraton Pleret pada tahun 1889, memberi kesaksian, tembok yang mengelilingi keraton terbuat dari batu bata setinggi 5-6 meter dengan tebal satu setengah meter. Pada puncak tembok berbentuk segitiga. Keterangan Van Goens dan Rouffaer sesuai dengan peta Keraton Pleret yg dimuat dalam P.J. Louw, Java Oorlog, jilid II.

Bangunan yang pernah dibangun di kompleks keraton ini adalah bangunan Prabayeksa, Kemandungan, dan Srimanganti. Data arkeologis atau artefak yang tersisa yang dapat dilacak boleh dikatakan sangat minim. Data yang masih tersisa sampai saat ini antara lain berupa toponim. Toponim-toponim yang hingga kini masih ada itu antara lain Kedaton, Keputren, Kanoman, Demangan, Kauman, Segarayasa, dan Pungkuran.

Mihrab tempat imam di petilasan Masjid Agung Kraton Pleret.Sisa-sisa bangunan di kompleks Keraton Pleret yang masih dapat disaksikan antara lain: Mesjid Agung Keraton Pleret di Kauman, Pasar Pleret, Benteng Keraton Pleret, Sumur Kuna, dan toponim-toponim yang dapat dikatakan identik dengan nama-nama dusun yang ada di bekas kompleks Keraton Pleret. Toponim-toponim itu di antaranya: Keputren, Kedaton, Pungkuran, Kauman, Segarayasa, Sampangan, dan Mertasanan.

Masjid Agung Kraton Pleret 5Selain itu, ada pula berita Belanda yang menerangkan, Mataram Pleret juga mempunyai pintu-pintu gerbang pabean. Dalam berita tersebut paling tidak disebutkan ada tiga pintu gerbang yakni: Gerbang Selimbij (Selimbi) sekitar 7 mil dari Salatiga atau 18-20 mil dari Semarang, Gerbang Tadie (Taji) sekitar 2 mil sebelah selatan Belirangh, sebelah selatan Gunung Merbabu dan Gerbang Caliadier (Kaliajir) (van Goens 1856: 309-312 via Inajati Adrisijanti, 2000: 65-66).

Di samping kebesaran bangunan, Keraton Pleret menyimpan banyak cerita dan kisah tentang intrik politik untuk melanggengkan kekuasaan. Bahkan cinta, bagi Amangkurat I juga bisa dijadikan babak dalam sekuel alur kekuasaannya. Seperti kisah cintanya dengan Ratu Malang, seorang wanita bersuami Ki Dalang Panjang Mas yang berujung kepada pembunuhan Ki Dalang dan para selir raja. Begitu pula dengan pembunuhan Rara Oyi, calon pengganti Ratu Malang pilihan raja yang bercinta dengan putra mahkotanya, Pangeran Adipati Anom. Putranya itu diusir dan tidak lagi diakui sebagai putra mahkota lagi. Tetapi kemudian raja kembali mau mengakui sebagai putra mahkota, syaratnya Pangeran Adipati Anom harus membunuh Rara Oyi dengan tangannya sendiri.

Situs Keraton Pleret sedemikian besarnya sebesar cerita dan dinamika keraton yang banyak disebut sebagai zaman tirani dan disintegrasi Mataram. Intrik politik, kekuasaan, dan juga tragedi melodi cinta yang kemudian membumihanguskan kerajaan dinasti Mataram.

Lokasi:

Arah tenggara Kota Jogja, berjarak lebih kurang 16,5 kilometer dari pusat kota Jogja dengan jarak tempuh kendaraan lebih kurang 30 menit.

Transpportasi:

Lebih disarankan menggunakan kendaraan pribadi mengingat kunjungan ke lokasi-lokasi petilasan situs-situs tersebut tidak berada di satu tempat.

Kuliner:

Sangat cocok bagi Anda penyuka sate kambing karena di sekitar Pleret sangat banyak dijumpai warung sate. Disarankan: sate klathak Pasar Jejeran (buka di malam hari) dan sepanjang jalan Imogiri Timur, sate Pak Pong di sebelah barat perempatan Pasar Jejeran, atau di sate Pak Somaredjo (arah sebelah utara Kauman Pleret pas di tikungan jalan menuju ke arah jalan Imogiri Timur)

0

 likes / One comment
Share this post:
  • Mbah Karto says:

    kegahan mataram yg di masa sultan agung, raja sakti, berwibawa, raja sekaligus kerajaan di takuti kawan dan lawan hilang wibawa oleh penerus sultan agung yaitu amangkurat yg bejat, si mata keranjang, amangkurat mewarisi kebesaran mataram tapi tidak mewarisi kharismanya, bahkan malah kerjasama dgn bekas musuhnya yaitu kompeni, di masanya banyak kelaliman dgn bunuh 6000 ulama, maka Tuhan cabut mandat mataram jadi negeri kecil2 yg kurang akur

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    code

    Archives

    > <
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec