04
Jul-2019

Menguras Enceh, Menuai Berkah

Meski terkuras habis, air dari enceh itu diyakini mengalirkan harapan dan doa.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/01/nguras-enceh1.jpg” align=”right” lightbox=”true” title=”Nguras Enceh Imogiri” link=”” width=”200″ height=””]Dalam teori sosial, budayawan Kuntowijoyo menyampaikan mitos terdapat pada periode awal evolusi pemikiran manusia. Meskipun dalam banyak kasus mitos itu ada sampai sekarang. Termasuk prosesi Nguras Enceh di pemakaman raja-raja Mataram Pajimatan Imogiri.

Air yang dikuras setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa atau Muharram dalam kalender Islam itu diyakini membawa berkah. Banyak di antara pengunjung yang membawa air itu pulang untuk bermacam tujuan. Mulai dari agar sehat, agar mendapatkan rezeki, sampai agar awet muda dan enteng jodoh.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/01/nguras-enceh2.jpg” align=”left” lightbox=”true” title=”Nguras Enceh Imogiri” link=”” width=”” height=”200″]Meskipun motifnya beragam, tapi sepanjang upacara Nguras Enceh pengunjung tetap mengikutinya dengan khidmat. Upacara tidak berlangsung lama. Setelah ubarampe berupa sesaji didoakan segera para abdi dalem baik dari Kasultanan Ngayogyakarta maupun dari Kasunanan Surakarta bersiap berbaris saling bergantian meranting ember berisi air untuk dimasukkan ke dalam enceh.

Ada empat enceh terletak di depan pintu gerbang I Kompleks Makam Pajimatan Imogiri. Dua di bagian kiri dan dua enceh di bagian kanan. Bagian kiri bernama Kiai Mendung dan Nyai Siyem (milik makam raja-raja Surakarta). Bagian kanan bernama Nyai Danumurti dan Kiai Danumaya (milik makam raja Yogyakarta). Kiai Mendung berasal dari Istanbul, Turki; Nyai Siyem dari Siam (Bangkok, Thailand); Kiai Danumaya dari Samudra Pasai (Aceh); dan Nyai Danumurti dari Palembang. Keempat enceh tersebut merupakan pemberian kerajaan kolega dan taklukan Sultan Agung.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/01/nguras-enceh3.jpg” align=”right” lightbox=”true” title=”Nguras Enceh Imogiri” link=”” width=”” height=”200″]Makam Imogiri merupakan kompleks makam bagi raja-raja Mataram dan keluarganya. Kompleks ini berada di Girirejo, Pajimatan, Imogiri. Makam ini didirikan oleh Sultan Agung Hanyokrokusuma mulai tahun 1632 sampai 1640. Sultan Agung yang pernah menyerang VOC di Batavia bersama pasukan Mataram itu wafat pada tahun 1645.

Enceh-enceh setinggi lebih kurang satu meter tersebut dibuat dari tanah liat. Dikuras setahun sekali pada Jumat Kliwon bulan Suro. Jika pada bulan tersebut tidak dijumpai Jumat Kliwon, maka diganti Selasa Kliwon. Menurut Mas Lurah Jogowasito, lurah bagian makam raja Yogyakarta, Nguras Enceh itu mempunyai pesan membersihkan dari keburukan dan menggantinya dengan kebaikan.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/01/nguras-enceh4.jpg” align=”left” lightbox=”true” title=”Nguras Enceh Imogiri” link=”” width=”200″ height=””]Sehari sebelum Nguras Enceh digelar acara kirab budaya. Iring-iringan itu untuk mengantarkan siwur (gayung) menuju makam yang akan digunakan untuk menguras enceh. Siwur dipilih karena punya makna agar menjadi manusia itu berbudi luhur, berilmu, dan bertanggung jawab. Siwur yang terbuat dari batok kelapa itu juga memiliki tafsir kata. Si dan wur berarti aja ngawur. Maksudnya, kalau sudah punya ilmu itu jangan dipakai secara tidak bertanggung jawab atau ngawur.

Lokasi

Kompleks Makam Raja-raja Mataram Pajimatan, Imogiri, Bantul

Transportasi

Bis jurusan Yogyakarta-Imogiri turun di terminal kecil di dekat kompleks makam. Bis ini berukuran minibus yang banyak dijumpai saat ngetem di seputaran Terminal Bis Yogyakarta di Giwangan, Ring Road Selatan. Atau jika dengan kendaraan pribadi arahkan kendaraan menuju Jalan Imogiri Timur lurus ke selatan sampai kompleks makam.

Jadwal

Nguras Enceh:

Bulan Suro pada hari Jumat Kliwon. Jika tidak dijumpai Jumat Kliwon pada bulan Suro, maka diganti Selasa Kliwon masih di bulan yang sama. Jika Anda ingin mengikuti jalannya doa upacara, maka datanglah pagi-pagi sekitar jam 08.00 WIB. Selain bisa ikut prosesi ritual Anda juga masih cukup leluasa menaiki tangga makam yang cukup tinggi dengan 350 anak tangga itu.

Kirab budaya:
Sehari sebelum Nguras Enceh jam 16.00 WIB setelah shalat Ashar.

Rute Kirab:

Diawali dari halaman kantor Kecamatan Imogiri menuju kediaman juru kunci makam Surakarta untuk mengambil siwur dan dilanjutkan ke kediaman juru kunci makam Yogyakarta dengan kegiatan yang sama.

[notice type=”green”]Penting untuk diperhatikan!
[list type=check]
  • Jangan tergesa-gesa saat menaiki anak tangga. Pilihlah sisi kiri atau sisi kanan anak tangga yang ada besi sebagai pegangan saat naik. Atau jika ingin mengurangi kesan curam, maka Anda bisa meniti anak tangga dengan cara zigzag.
  • Jika Anda membawa kamera untuk mengabadikan acara, berbagilah tempat dengan yang lain karena biasanya cukup banyak fotografer yang terlibat di situ.
  • Saat berada di Sapit Urang di kompleks makam tidak diperkenankan mengenakan topi dan penutup kepala lainnya kecuali blangkon lengkap dengan busana Jawa pranakan untuk para abdi dalem Ngayogyakarta dan beskap untuk para abdi dalem Surakarta.
  • Kalau ingin naik mendekat keempat enceh, Anda harus mencopot alas kaki karena letaknya sudah berada di bawah gerbang utama makam.
  • Siap-siaplah berbasah-basah karena akan ada ribuan pengunjung antri mendapatkan air dari keempat enceh tersebut.
[/list] [/notice]

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec