06
Sep-2014

Menunggu Festival Lima Gunung ke-14

Festival Lima Gunung ke-13 baru saja digelar. Tepatnya, pada tanggal 23 – 24 Agustus 2014 di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tidak elok rasanya, membicarakan festival itu tanpa mengetahui sejarahnya. Sembari menunggu Festival Lima Gunung ke-14 tahun depan.

Pesta seniman yang berwujud Festival Lima Gunung dihadirkan sebagai silaturahmi tahunan pegiat seni Kabupaten Magelang. Adalah mereka, kalangan seniman petani yang menggagas Festival Lima Gunung ini.

Awal lahirnya nama Festival Lima Gunung adalah kerinduan dari para seniman petani dari warga yang tinggal di sekitar gunung yang mengitari Magelang. Yaitu, Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Mereka sepakat menggelar kegiatan seni sebagai ajang kumpul-kumpul rakyat.Festival Lima Gunung 6

Memang tak dipungkiri, seni rakyat memudar, semenjak merebaknya televisi dan internet masuk ke semua kalngan masyarakat.

Padahal, zaman dahulu, adanya seni rakyat tersebut, semua warga berbondong-bondong dengan sukaria menuju lapangan dan salin bersilaturahmi dengan menonton kesenian tradisional bersama-sama. Tanpa bermaksud mengkambinghitamkan, televisi dan internet membuat masyarakat menjadi individualistis. Mereka menganggap acara yang diperoleh dari televisi lebih menarik dan menghibur daripada yang ada di lapangan, yang berwujud kesenian tradisional. Setiap ada kegiatan seni tradisional, bisa dipastikan yang hadir hanya kaum lanjut usia saja.

Kerinduan itu semakin membuncah. Kalangan seniman petani berupaya giat membangkitkan kembali sejarah seni dan kebudayaan yang hampir tergeser nilainya oleh modernisasi.Festival Lima Gunung 5

Tujuan Festival Lima Gunung adalah membangun persaudaraan yang erat antara seniman petani dari lima gunung. Kemudian, ini berkembang dengan sasaran orang umum yang diizinkan mengikuti kegiatan ini sebagai upaya menggalakan cinta tradisi dan budaya sendiri.

Pertama kali, Komunitas Lima Gunung menggelar festival pada tahun 2002 di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis. Tahun berikutnya, 2003, digelar di tempat yang sama.

Setelah itu, berpindah-pindah ke dusun-dusun lain di kawasan lima gunung sesuai kesepakatan petinggi komunitas.
Pada 2004 dan 2006, di kawasan Merbabu, Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis. Ini sempat diselingi pada tahun 2005 yang digelar di Desa Petung, Kecamatan Candimulyo, masuk kawasan Merbabu.Festival Lima Gunung 4

Pada 2007, pindah ke kawasan Sumbing, Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran. Setahun berikutnya, 2008, di kawasan Merapi di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun.

Pada tahun 2009 dan 2013, Festival Lima Gunung digelar di Lereng Gunung Andong. Tepatnya, di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak. Tahun 2010, pindah ke kawasan Menoreh, tepatnya di Studio Mendut Kelurahan Mendut, Kecamatan Mungkid.

Setahun setelah itu, tahun 2011, festival pindah lagi ke lokasi di antara lereng Merapi dan Merbabu. Yaitu di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan. Pada tahun 2012, diadakan didua lokasi berbeda. Yaitu hari pertama di Krandegan dan hari kedua di Gejayan. Masing-masing di Kecamatan Kajoran dan Pakis.

Festival Lima Gunung 2Tahun 2013, Festival Lima Gunung diadakan di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, di lereng Gunung Andong. Terakhir, tahun 2014 diadakan di Dusun Warang, Desa Muneng, Kecamatan Pakis.

Tahun depan, 2015, sampai saat ini belum ada kepastian lokasi yang dipilih. Tentu saja berdasar kesepatan para petinggi Komunitas Lima Gunung untuk penentuan tempat dan harinya.

Yang pasti, tentu saja harapan semua pihak, Festival Lima Gunung ke-14 tahun 2015 (seandainya sesuai rencana) tetap akan mempertahankan identitas idealismenya. Yaitu, menolak sponsor dan donatur.

Sitras Anjilin, pemimpin sanggar Tutup Ngisor yang juga dikenal sebagai salah satu actor komunitas lima gunung menegaskan, mereka merasa kuat dan tidak tak perlu sponsor.

Awal dan Akhir adalah Gunungan

Sutradara Film Garin Nugroho mengatakan, dalam setiap cerita perwayangan, sang dalang memulai dengan menggunakan gunungan. Saat berakhir cerita wayang itu, ia menutup dengan gunungan.

Festival Lima Gunung, ungkap Garin, sudah tepat namanya. Dalam mengejawantahkan Festival Lima Gunung 1dalam berkesenian juga tidak lepas dari lingkungan, yaitu lima gunung yang menjadi simbol keberadaan mereka.

“Saat ada kekacauan, para pendekar turun gunung memberantas keangkaramurkaan, saat suasana terkendali dan harus selalu kritis terhadap penguasa, pendekar naik gunung, bertapa dan selalu memantau keadaan,” ungkap Garin saat Festival Lima Gunung ke-13 di Desa Muneng, Kecamatan Pakis, Magelang.

Sutradara Film Daun Di Atas Bantal menyebut Festival Lima Gunung menjadi peristiwa langka, apalagi berlangsung 13 tahun berturut-turut. Sehingga penyelenggaraannya ditunggu banyak orang dari berbagai kota.
“Ini peristiwa langka. Mari sambut Lima Gunung yang luar biasa ini, untuk kebersamaan Lima Gunung. Gunung selalu punya arti dalam kebudayaan Jawa. Kita beri salam bahagia,” ungkapnya.
Nama-nama yang melekat pada Festival Lima Gunung adalah mereka penggiat seni tradisional yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung. Selain Tanto Mendut (Sanggar Mendut di Desa Mendut I, Kecamatan Mungkid/ Lereng Menoreh), ada  Supadi Haryanto yang didapuk sebagai Ketua Komunitas Lima Gunung.

Supardi yang juga seorang juragan sayur ini merupakan pimpinan Sanggar Andong Jinawi yang ada di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamaan Ngablak (Lereng Gunung Andong). Kemudian ada Citras Anjilin dari Padepokan Tjipto Boedoja Tutup Ngisor, Dukun di lereng Merapi; ada Riyadi dari Padepokan Wargo Budoyo Gejayan di Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis (lereng Gunung Merbabu); Sujono dari Sanggar Saujana Festival Lima Gunung 7(Dusun Keron, Krogowanan, Kecamatan Sawangan/ antara Gunung Merapi-Merbabu); Handoko dari Sanggar warangan Merbabu di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis (lereng Barat Gunung Merbabu); Timbul dari Sanggar Lumaras Budoyo di Dusun Petung Kidul, Desa Petung, Kecamatan Pakis (Merbabu); Sumarno dari Sanggar Cahyo Budoyo Sumbung di Dusun Krandegan, Desa Suko Makmur, Kecamatan Kajoran (lereng Sumbing);  dan Ipang Pangadi dari Sanggar Wonoseni di Dusun Wonoseni, Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan (Gunung Sumbing).

Dalam setiap persiapan pentas kesenian, Festival Lima Gunung tidak pernah mempermasalahkan soal dana. Karena, semua yang terlibat tidak pernah membahasa hitung-hitungan soal itu. Semua warga, semua seniman, dan semua yang terlibat sebagai panitia, pada intinya membantu. Mereka memberikan apa yang bisa diberikan secara sukarela. Karenanya, penyelenggaraan festival secara mandiri. Karena itu, sejak Festival Lima Gunung  ke-8 hingga sekarang, tak pernah ada selembar surat proposal pun melayang untuk meminta sumbangan.

Lokasi

Karena tempat digelarnya Festival Lima Gunung selalu tidak tetap dan belum diketahui setahun sebelumnya, sebaiknya Anda ingin harus sering-sering mengecek informasinya melalui dinas pariwisata Magelang atau lewat sanak saudara maupun teman yang tinggal di Magelang. Alternatif mencari informasi adalah Studio Mendut di Jalan Mendut Nomor 1, Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang (milik Tanto Mendut).

Harga Tiket

Gratis alias tidak dipungut biaya. Biasanya hanya mempersiapkan uang untuk parkir di Festival Lima Gunung 3lokasi acara.

Akomodasi

Panitia biasanya menyiapkan rumah penduduk bagi yang berminat menginap. Ini tidak dipungut biaya juga. Hanya, sebaiknya menginformasikan pada panitia agar dicarikan rumah penduduk yang tersedia.

Tips

Sebagai saran, jika berminat datang ke lokasi Festival Lima Gunung, pakailah pakaian yang Festival Lima Gunung 9nyaman namun sopan. Jangan memakai pakaian yang tidak pantas. Sebab, ini adalah festival rakyat. Tentu sebagai penikmat seni, Anda harus hanyut dalam kesederhanaan rakyat yang gegap gempita melestarikan kebudayaan tradisionalnya.

Jika menginap, karena lokasi di pedesaan dan sangat sederhana, sebaiknya mempersiapkan keperluan menginap sendiri. Misal, sleeping back, jaket tebal, keperluan mandi dan lainnya.

 

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec