16
Jun-2015

Midang Nikmat di Pasar Kramat

Dalam terminologi Islam, nazar berarti seseorang yang berjanji kepada Allah untuk melakukan sesuatu hal, jika harapannya terpenuhi atau terkabulkan. Ini juga ada dalam perbendaharaan kata di agama Kristen. Lazimnya, nazar selalu terkait dengan perilaku keseharian. Seperti melakukan selamatan, sedekah, dan lainnya

Ada tradisi melaksanakan nazar yang berkembang di masyarakat Muntilan. Terutama setelah keinginan sembuh dari sakit yang dialami terlaksana, baik anggota keluarga yang dewasa maupun anak-anak. Biasanya, begitu sembuh, si anak atau siapa saja yang sakit akan diajak untuk mengunjungi Pasar Kramat.

Tradisi Midang Pasar Kramat 5Lokasi pasar sekitar 30 kilometer dari Yogyakarta arah Barat melewati Muntilan. Pasar ini hanya ada aktivitas setiap 40 hari sekali. Yaitu, pada Jumat Pahing. Dinamai Pasar Kramat, karena berada di Dusun Kramat, Desa Congkrang, Kecamatan Muntilan Magelang, Jawa Tengah.

Setelah sembuh, mereka yang baru saja sakit diajak “midang” alias menikmati aneka sajian makanan yang ada. Menikmati aneka makanan merupakan bagian dari bersyukur setelah sembuh. Sebuah tradisi bagi mereka yang memang mewarisi kebiasaan ini turun temurun. Tapi bagi kita, anggaplah sebagai sebuah ujian. Saat sakit, orang sulit menikmati enaknya makanan. Sebaliknya, orang yang sehat, pasti mampu merasai menu-menu kuliner yang ada. Jajan di sini sekaligus menguji lidah, apakah sudah sembuh atau belum.

Tradisi Midang Pasar Kramat 3Yang pasti, masakan tradisional di Pasar Kramat akan memanjakan lidah. Lebih-lebih bagi anak-anak yang lantas bebas memilih mainan apa saja yang diinginkan, kebetulan banyak penjual mainan tersedia. Ini merupakan “bonus” bagi orang tua untuk tidak menolak permintaan si anak.

Oh ya, begitu sampai di pasar ini, pada kepala si anak, oleh orang tuanya dibelikan pilis, terbuat dari kunyit yang sudah dihancurkan lembut. Selain itu, empat kembang, kenanga, mawar, kanthil, dan pandan dicampur dan disebarkan di pintu masuk Pasar Kramat. Jangan lupa, uang seikhlasnya dimasukkan dalam kotak yang tersedia di beberapa titik di Pasar Kramat. Bagi yang tidak menjalankan, tidak ada sanksi dan hukumannya.Tradisi Midang Pasar Kramat 4

“Sejak kapan, tradisi ini dimulai, tiada yang tahu. Sejak saya kecil sudah ada. Padahal, saya berjualan di sini sudah 20 tahun lebih,” ungkap salah satu pedagang makanan di Pasar Kramat, Susmiyati di sela-sela melayani pembeli.

Susmiyati yang lahir dan besar di Dusun Kramat melanjutkan, ada beberapa yang bertahan. Yaitu makanan khas seperti ketupat dan serundeng yang ada sejak dulu. Demikian pula dengan makanan utama berbahan ayam, telur, tahu serta tempe. Sedangkan untuk makanan anak-anak, snack, dan lainnya sudah mengalami evolusi dengan bervariasinya produk pabrik. Hal serupa terjadi pada mainan yang dijual. Di tahun 80-an dan 90-an, mainan berbahan kayu atau produk perajin lokal yang mendominasi. Sekarang, mainan anak-anak dari plastik telah mengambil alih.

Tradisi Midang Pasar Kramat 6Di pasar tiban ini, pedagang makanan dan mainan mendominasi barang yang dijual. Selain itu, tidak banyak, paling hanya satu-dua warga yang mencoba peruntungannya menjual barang kebutuhan sehari-hari. Misal, orang yang berjualan tikar dari padan yang dirangkai sendiri, penjual kebutuhan dapur, dan lainnya.

Lahirnya pasar yang ada di lorong jalan masuk dusun Kramat ini tidak ada yang mengetahuinya, termasuk juru kunci Pak Mufid, generasi kesekian yang menjadi juru kunci di Makan Kramat. Pak Mufid sendiri merupakan keturunan Mbah Bakri, orang yang mengawali menjadi juru kunci. Makam di sini memang dikunjungi oleh mereka yang berziarah pascakesembuhan keluarganya. Siapa yang dimakamkan juga tidak jelas, ada dua versi. Satu bilang, adalah Mbah Kramat, cikal bakal dusun Kramat, Congkrang Muntilan. Versi lain menyebut, saat Sunan Kalijaga lewat, pada Jumat Pahing, menyempatkan memotong kuku dan rambut. Kedua bagian tubuh tersebut, kuku dan rambut Sunan Kalijaga lah yang dimakamkan.

Tradisi Midang Pasar Kramat 1Lokasi

Koordinat GPS: S7.601789, E110.258295

Rute

Untuk sampai ke Pasar Kramat, dari Pasar Muntilan, ke arah Selatan (Kulonprogo) sekitar 3-4 kilometer. Bisa dengan kendaraan pribadi atau umum. Alternatif menggunakan angkutan umum, bisa naik bus arah Pasar Japunan Congkrang (pertigaan Japunan) atau naik dokar yang selalu ada saat pasar tiban (Kramat) ada. Waktunya, sekitar 10-15 menit.

Potensi

Di Pasar Kramat, dijual aneka kuliner tradisional yang bisa dinikmati di pasar itu atau dibawa pulang. Paling sering ada yaitu, kupat, makanan kecil tradisional semacam sengkolon, tahu-tempe dan lainnya.

Di sini, ada beberapa pedagang yang mencoba menjajakan produk rumah tangga. Misal, tikar pandan, alat-alat dapur dan lainnya. Kebanyakan alat-alat yang dibutuhkan ibu rumah tangga.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec