07
Feb-2013

Naga dan Tumpeng Kue Raksasa Imlek

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/02/naga-tumpeng-imlek2.jpg” align=”right” lightbox=”true” title=”Naga dan Tumpeng Kue Raksasa Imlek” link=”” width=”200″ height=””]Imlek, perayaannya tak bisa dipisahkan dari event Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (BPTY) yang rutin digelar di Kampung Ketandan. Imlek atau Tahun Baru China, tak ubahnya seperti tahun baru masehi atau tahun baru Hijriah bagi umat Islam. Imlek adalah tradisi pergantian tahun. Sehingga yang merayakan Imlek ini seluruh etnis Tiongha apapun agamanya.

Asal-usul Imlek berasal dari Tiongkok yang dalam bahasa China disebut Chung Ciea yang berarti Hari Raya Musim Semi. Hari Raya ini jatuh pada akhir Januari dan bila di negeri Tiongkok, Korea dan Jepang ditandai dengan berakhirnya musim dingin. Dulunya, Negeri Tiongkok dikenal sebagai negara agraris. Setelah musim dingin berlalu, masyarakat mulai bercocok tanam dan panen. Tibanya masa panen bersamaan waktunya dengan musim semi, cuaca cerah, bunga-bunga mekar dan berkembang.

Lalu musim panen ini dirayakan oleh masyarakat. Kegembiraan itu tergambar jelas dari sikap masyarakat yang saling mengucapkan Gong Xi Fa Cai, kepada keluarga, kerabat, teman dan handai taulan. Gong Xi Fa Cai artinya ucapan selamat dan semoga banyak rezeki.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/02/naga-tumpeng-imlek3.jpg” align=”left” lightbox=”true” title=”Naga dan Tumpeng Kue Raksasa Imlek” link=”” width=”200″ height=””]Saat Imlek, warga etnis Tionghoa mempunyai tradisi menarik. Satu diantaranya adalah membersihkan rumah sebelum hari H. Apa sih maknanya? Tradisi ini merupakan lambang keyakinan bahwa rumah akan bersih dari keburukan dan siap menerima keberuntungan di tahun yang baru. Selain dibersihkan, rumah juga dicat ulang serta ditempeli kertas yang bertuliskan kalimat atau kata-kata baik. Dekorasi biasanya dominan menggunakan warna merah, yang bagi etnis Tionghoa melambangkan sesuatu yang sejahtera dan kuat, serta membawa keberuntungan. Bukan hanya rumah, kelentheng juga ikut dibersihkan.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/02/naga-tumpeng-imlek4.jpg” align=”right” lightbox=”true” title=”Naga dan Tumpeng Kue Raksasa Imlek” link=”” width=”200″ height=””]Juga ada tradisi untuk membeli pakaian dan sepatu baru serta menggunting rambut. Pakaian baru yang dikenakan biasanya berwarna merah atau warna terang lainnya yang sarat dengan optimisme. Juga ada tradisi mengurangi hutang. Maknanya, warga Tionghoa tidak ingin banyak terbebani hutang pada tahun selanjutnya. Ada pula membagi-bagikan Angpao yang dipercaya berkaitan dengan transfer energi dan kesejahteraan.

Dari sekian tradisi ini, saat PBTY nanti, pengunjung akan melihat tradisi lain yakni pertunjukkan Liong/Naga dan Barongsai yang wajib saat perayaan Imlek. Dalam kepercayaan warga Tionghoa, Liong dan Barongsai merupakan lambang kebahagiaan dan kesenangan. Pertunjukan tarian singa dan naga ini dipercaya bisa membawa hoki.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/02/naga-tumpeng-imlek5.jpg” align=”left” lightbox=”true” title=”Naga dan Tumpeng Kue Raksasa Imlek” link=”” width=”200″ height=””]Tak lupa juga menyajikan makanan khusus Imlek, yang di Indonesia termasuk Jogja sudah banyak diwarnai dengan semangat akulturasi. Ada bakpia, Lontong Cap Go Meh, bakmoi, Bak Pao, lumpia, dan lain sebagainya. Cukup beragam, tapi yang jelas bahwa masakan Tionghoa sangat mengenal baik bahan-bahan makanan dari 5 unsur alam semesta. Yakni udara (burung merpati, air (ikan), darat ( ayam), hewani (sapi dan babi) dan nabati (sayur-sayuran). Yang paling pantang, adalah bubur. Karena makanan ini dianggap sebagai simbol kemiskinan yang sangat tidak sesuai dengan semangat tahun baru dengan harapan baru.

Lokasi

Kampung Ketandan, Kelentheng Gondomanan serta rumah-rumah warga etnis Tionghoa.

Jadwal

PBTY akan digelar 20 – 24 Februari 2013. Selama acara akan tampil tumpeng raksasa dari kue keranjang, barongsai, aneka hiburan, wayang potehi dan pentas kesenian tradisional China lainnya, serta pusat jajan. Juga akan diresmikan gapura yang menjadi identitas dari kampung Pecinan Ketandan. Acara akan berlangsung mulai pukul 17.00 hingga 23.00 wib tiap hari. Di tanggal 20 akan dilakukan peresmian gapura. Sedangkan barongsai dan naga raksasa sepanjang 132 meter akan dipentaskan dalam konvoi pada tanggal 23 Februari.

[notice type=”green”]Tips
Mengingat PBTY biasanya cukup dipadati pengunjung, lebih baik Anda datang lebih awal untuk memastikan segala sesuatunya lancar. Siapkan alat perekam gambar dan suara. Jangan lupa pula mencicipi aneka jajanannya.[/notice]

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec