12
Jun-2019

Pesta Rakyat Bertabur Berkah

Wisata   /   Tags: ,

Sekaten menjadi peristiwa tradisi sekaligus hiburan paling kolosal di Yogyakarta. Mendapat berkah sekaten adalah harapan yang ditunggu-tunggu.

Muasal kata sekaten diyakini berasal dari kata Syahadatain merujuk pada bahasa Arab Islam (dua kalimat syahadat, persaksian seseorang terhadap Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW). Sebuah metode yang dalam sejarah lisan disebutkan sebagai metode Sunan Kalijaga dalam menyiarkan agama Islam kepada masyarakat melalui media hiburan mendengarkan gamelan yang ditabuh.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/01/Sekaten-Pesta-Rakyat-1.jpg” align=”right” lightbox=”true” title=”Sekaten Pesta Rakyat” link=”” width=”” height=”200″]Sekaten adalah acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan pada tiap tanggal 6 bulan Jawa Mulud (Rabiulawal tahun Hijriyah). Untuk tahun ini, jatuh di tanggal 17 Januari dan akan berlangsung selama 6 hari hingga 24 Januari 2013. Acara Sekaten akan dimulai sore hari dengan mengeluarkan gamelan Kanjeng Kyai Sekati yang terdiri dari Kanjeng Kyai Nogowilogo yang ditempatkan di Bangsal Trajumas dan Kanjeng Kyai Guntur Madu di Bangsal Srimanganti. Dua bregada (pasukan) abdi dalem prajurit bertugas menjaga gamelan pusaka tersebut, yaitu prajurit Mantrijero dan prajurit Ketanggung.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/01/Sekaten-Pesta-Rakyat-3.jpg” align=”left” lightbox=”true” title=”Warung Mbah Kebo” link=”” width=”200″ height=””]Di halaman Kemandungan atau Keben banyak pedagang kecil berjualan kinang dan nasi wuduk atau yang lebih dikenal nasi gurih. Pada malam harinya, selesai waktu shalat Isya, para abdi dalem yang bertugas melaporkan kepada Sri Sultan bahwa upacara siap dimulai. Setelah abdi dalem mendapat perintah dan petunjuk dari Sri Sultan, maka dimulailah upacara sekaten dengan membunyikan gamelan Kanjeng Kyai Sekati.

Upacara dimulai sekitar pukul 24.00 WIB diawali dengan iring-iringan abdi dalem yang membawa seperangkat gamelan: Kanjeng Kyai Nogowilogo dan Kanjeng Kyai Gunturmadu. Iring-iringan ini dimulai dari pendopo Ponconiti, Pegelaran, Alun-alun, dan berakhir di halaman Masjid Gedhe yang dikawal oleh prajurit keraton. Kedua gamelan tersebut akan berada di Pagongan Lor (utara) dan Kidul (selatan). Kanjeng Kyai Nogowilogo di sisi utara masjid dan Kanjeng Kyai Gunturmadu sebelah selatan masjid.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/01/Sekaten-Pesta-Rakyat-7.jpg” align=”right” lightbox=”true” title=”Warung Mbah Kebo” link=”” width=”200″ height=””]Kedua gamelan tersebut akan dibunyikan terus menerus siang dan malam selama enam hari berturut-turut kecuali pada Kamis malam (malam Jumat) sampai selesai shalat Jum’at siang harinya selama 6 hari berturut-turut. Halaman masjid juga ditata sedemikian rupa untuk tempat beragam pedagang. Mulai dari mainan tradisional seperti kodok-kodokan yang bila ditekan lehernya akan mengeluarkan bunyi, ser-seran dari bahan seng dan timbel berbentuk pesawat tempur, helikopter, dan binatang, kapal othok-othok, gasing dari bambu, seruling, pecut, topeng, sampai aneka makanan wajib sekaten: endok abang, brondong, sego gurih, dan sego nggeneng.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/01/Sekaten-Pesta-Rakyat-6.jpg” align=”left” lightbox=”true” title=”Warung Mbah Kebo” link=”” width=”200″ height=””]Pada akhir malam ketujuh atau pada tanggal 11 Mulud malam dilakukan peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW bertempat di serambi Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman. Pada saat itu Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono X akan datang ke masjid diiringi para pangeran untuk mendengarkan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW oleh Kyai Penghulu, seorang abdi dalem Penghulu.

Setelah acara tersebut gamelan dimasukkan kembali ke dalam keraton. Masyarakat Yogyakarta menyebut peristiwa keluar gamelan dari Keraton menuju Masjid Gedhe dengan medhak gangsa dan kondur gangsa untuk kembalinya gamelan ke dalam Keraton. Peristiwa Sekaten menjadi pesta rakyat yang benar-benar dinikmati untuk menuai berkah.

[notice type=”green”]Tips Dalam Box

  • Jika Anda ingin menyaksikan Sekaten atau keluarnya gamelan dari Keraton menuju Masjid Gedhe datanglah lebih awal agar bisa memilih tempat yang strategis sepanjang rute karena akan ada banyak pengunjung yang menyaksikannya.
  • Pilihlah tempat di halaman Masjid Gedhe karena di situlah pusat upacara Sekaten.
  • Cara nikmat menikmati alunan gamelan adalah dengan duduk-duduk sambil menikmati sego nggeneng atau sego gurih. Bagi kalangan sepuh biasanya akan menikmatinya sambil nginang, makan daun sirih dan kinang sambil mendengarkan alunan gamelan.
  • Untuk sekadar bukti telah ke Sekaten, tidak ada salahnya memilih cinderamata berupa mainan tradisional.
[/notice]

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec