05
May-2019

Tradisi Suran Mbah Demang

Kultural   /   Tags: , ,

Tradisi Suran Mbah Demang ini dilaksanakan untuk mengenang kiprah Demang Cokrodikromo.

sunan-ki-demang2-Cokrodikromo, adalah anak seorang Bekel yang ketika kecil diberi nama Asrah. Tidak selayaknya anak seorang pemuka masyarakat, Asrah berperilaku nakal dan mendatangkan malu pada keluarganya. Hingga kemudian, dia dititipkan kepada Demang Dawangan, pejabat pemerintahan yang dikenal punya sikap tegas. Di bawah didikan Demang Dawangan, Asrah ditugaskan untuk menggembala itik dan mencari kayu bakar ketika pulang.

Ketika beranjak dewasa, Ki Demang Dawangan menyuruh Asrah bertapa sebulan lamanya. Laku prihatin ini membawa Asrah bertemu dengan figur-figur bijak yang kemudian mengajarinya tentang kesejatian hidup dan memberinya sebuah kitab. Pada batas antara hidup dan mati setelah sebulan bertapa, Ki Demang Dawangan meneteskan cairan kanji ke mulut Asrah hingga kembali sadar. Dengan sisa kekuatannya, Asrah mencari kitab yang ia terima ketika bertapa dan akhirnya ditemukan di pinggir Kali Bedog.

Seusai bertapa dan memegang kitab, Asrah dikenal sakti dan kemudian diangkat menjadi mandor di perkebunan tebu. Dia pun kemudian dipercaya menjadi Demang pabrik Gula di daerah Demak Ijo lalu berganti nama Demang Cokrodikromo.

sunan-ki-demang3-Ki Demang Cokrodikromo tetap melakukan laku prihatin dengan tidak makan garam, laku tapa bisu mengelilingi rumahnya dan mandi setahun sekali pada tanggal 7 Sura tengah malam. Selain itu, Ki Demang juga selalu memberi hidangan kepada tamu yang datang berupa Kendi Ijo, nasi dibungkus daun pisang dengan lauk ketan tholo dan gudangan (aneka sayuran rebus yang dicampur dengan parutan kelapa dan sedikit pedas). Inilah yang menjadi cikal bakal tradisi Suran Mbah Demang.

Pelaksanaan Acara

Sesuai namanya, Suran MBah Demang dilaksanakan di Bulan Suro. Suro adalah bulan baru dalam penanggalan Jawa. Suran Mbah Demang dimulai pada sore hari, tanggal 7 Suro setiap tahunnya.

Diawali dengan pembagian Kendi Ijo kepada pengunjung selepas tengah hari tanggal 7 Suro di sekitar pendapa Mbah Demang. Acara kemudian dilanjutkan dengan tahlil di pendapa dan nyekar di makam Mbah Demang pada sore harinya. Prosesi inti dimulai malam harinya sekitar pukul 21.00 WIB dengan kirab yang akan dimulai dari Padepokan Patran Eyang Ki Juru Permono, seorang ahli nujum kerajaan Mataram, menuju Pendopo Mbah Demang. Yang dikirab antara lain adalah pusaka Kyai Blencong, Bende, tumbak dan kitab Ambeyo serta foto Mbah Demang Cokrodikromo dan foto Eyang Ki Juru Permono Patran. Seusai kirab sekitar jam 23.00 WIB prosesi dilanjutkan dengan Slawatan di pendapa dan Srokal (mandi Jamas Trah Mbah Demang) di sumur petilasan Mbah Demang.

Tempat

Seluruh rangkaian acara ini diselenggarakan di sekitar kediaman Mbah Demang, di Banyuraden, Gamping, Sleman. Lokasinya berada di Jalan Godean, hanya 3 kilometer dari kota Yogya. Ada ratusan pedagang musiman yang berjualan di sekitar kawasan ini, sehingga membantu Anda mencari lokasi tepatnya.

Transportasi

Bus kota No. 15 tersedia cukup banyak. Taksi dari pusat kota sekitar 30-50 ribu rupiah. Bahkan mungkin ada banyak tukang becak dari pusat kota yang mau narik sampai ke tempat ini. Kendaraan pribadi juga bisa dipakai meski perlu cermat mencari lahan parkir.

Suvenir

Jangan lupa beli kendi, yang dipakai untuk membawa pulang air dari sumur Mbah Demang. Banyak yang percaya air ini bikin awet muda. Jangan lupa pula, gimana caranya, dapat bagian kendi ijo. Lumayan untuk mengatasi perut kosong sekaligus mencicipi menu khas ini biar bisa cerita ke kawan-kawan.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec